PENYEBAB ARTIKEL JURNAL DITOLAK REVIEWER DAN CARA MEMPERBAIKINYA
Bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti, artikel yang ditolak oleh reviewer adalah hal yang cukup sering terjadi. Penolakan memang terasa mengecewakan, apalagi jika proses penyusunan artikel sudah memakan waktu berbulan-bulan. Namun, perlu dipahami bahwa ditolaknya sebuah artikel bukan berarti penelitian yang dilakukan buruk Cara memperbaiki artikel jurnal. Dalam banyak kasus, penolakan justru menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas tulisan agar lebih layak dipublikasikan.
Reviewer memiliki tugas untuk memastikan bahwa artikel yang diterbitkan benar-benar memenuhi standar ilmiah. Mereka akan menilai mulai dari kualitas penelitian, penyajian data, hingga cara penulis menyampaikan hasil penelitian. Oleh karena itu, memahami alasan artikel ditolak dapat membantu penulis menghindari kesalahan yang sama pada pengiriman berikutnya.
Mengapa Artikel Jurnal Bisa Ditolak?
Banyak orang mengira artikel ditolak hanya karena hasil penelitiannya kurang menarik. Faktanya, ada banyak faktor lain yang lebih sering menjadi penyebab utama.
1. Topik Tidak Sesuai dengan Fokus Jurnal
Setiap jurnal memiliki ruang lingkup atau scope yang berbeda. Ada jurnal yang fokus pada bidang pendidikan, teknologi, kesehatan, ekonomi, maupun bidang lainnya.
Jika artikel yang dikirim tidak sesuai dengan fokus jurnal tersebut, kemungkinan besar editor akan langsung menolaknya bahkan sebelum masuk ke tahap review.
Karena itu, sebelum melakukan submit, luangkan waktu untuk membaca panduan penulis dan artikel-artikel yang pernah diterbitkan oleh jurnal tersebut.
2. Struktur Artikel Kurang Rapi
Artikel ilmiah memiliki format penulisan yang cukup ketat. Umumnya terdiri dari:
- Judul
- Abstrak
- Pendahuluan
- Metode Penelitian
- Hasil
- Pembahasan
- Kesimpulan
- Daftar Pustaka
Jika ada bagian yang kurang lengkap atau susunannya tidak sesuai pedoman jurnal, reviewer akan kesulitan memahami isi penelitian. Hal ini bisa menjadi alasan penolakan meskipun penelitian yang dilakukan sebenarnya cukup baik.
3. Kebaruan Penelitian Kurang Terlihat
Salah satu aspek yang paling diperhatikan reviewer adalah novelty atau kebaruan penelitian.
Reviewer ingin mengetahui apa kontribusi penelitian tersebut terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Jika artikel hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa memberikan sudut pandang baru, peluang diterima akan semakin kecil.
Oleh sebab itu, jelaskan dengan tegas apa yang membedakan penelitian Anda dibanding penelitian terdahulu.
4. Metode Penelitian Tidak Dijelaskan Secara Lengkap
Metode merupakan fondasi dari sebuah penelitian. Reviewer biasanya akan memperhatikan apakah metode yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan penelitian.
Kesalahan yang sering terjadi misalnya:
- Teknik pengambilan sampel tidak dijelaskan.
- Instrumen penelitian kurang jelas.
- Analisis data tidak dijelaskan secara rinci.
- Alasan memilih metode tertentu tidak disampaikan.
Semakin transparan metode penelitian yang digunakan, semakin mudah reviewer mempercayai hasil penelitian tersebut.
5. Pembahasan Masih Dangkal
Banyak penulis hanya menyampaikan hasil penelitian tanpa memberikan analisis yang mendalam.
Padahal reviewer ingin melihat bagaimana penulis menghubungkan hasil penelitian dengan teori maupun penelitian sebelumnya.
Pembahasan yang baik tidak hanya menjelaskan angka atau data, tetapi juga memberikan interpretasi, alasan, hingga implikasi dari hasil penelitian tersebut.
6. Referensi Kurang Berkualitas
Daftar pustaka juga menjadi perhatian reviewer.
Menggunakan referensi yang terlalu lama atau terlalu sedikit dapat membuat artikel terlihat kurang mengikuti perkembangan penelitian terbaru.
Sebaiknya gunakan jurnal ilmiah terbaru, terutama yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir jika memungkinkan. Selain itu, pastikan format sitasi sudah sesuai dengan ketentuan jurnal yang dituju.
7. Banyak Kesalahan Bahasa dan Penulisan
Kesalahan ejaan, tata bahasa, maupun penulisan istilah ilmiah sering dianggap sepele.
Padahal artikel yang sulit dipahami akan membuat reviewer kesulitan menangkap pesan penelitian.
Sebelum mengirim artikel, lakukan proses proofreading secara menyeluruh. Bila diperlukan, mintalah rekan atau pembimbing untuk ikut membaca naskah agar kesalahan kecil dapat ditemukan lebih awal.
Cara Memperbaiki Artikel Setelah Mendapatkan Review
Mendapat komentar dari reviewer sebenarnya merupakan hal yang positif. Artinya artikel Anda masih memiliki peluang untuk diperbaiki.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Pelajari Semua Komentar Reviewer
Jangan langsung merasa kecewa saat membaca hasil review. Baca setiap komentar dengan tenang dan pahami apa yang sebenarnya diminta reviewer.
Biasanya komentar mereka cukup spesifik sehingga dapat menjadi panduan dalam melakukan revisi.
Perbaiki Secara Bertahap
Tidak perlu terburu-buru memperbaiki seluruh bagian sekaligus.
Mulailah dari revisi yang paling penting, seperti metode penelitian, pembahasan, atau hasil analisis. Setelah itu baru lanjutkan ke perbaikan bahasa, format, maupun sitasi.
Berikan Tanggapan yang Jelas
Jika jurnal meminta response to reviewer, jawab setiap komentar secara sopan dan sistematis.
Jelaskan bagian mana yang sudah diperbaiki, serta alasan apabila ada saran reviewer yang tidak dapat diterapkan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penulis menghargai proses review dan bersedia meningkatkan kualitas artikelnya.
Jangan Takut Melakukan Submit Ulang
Penolakan bukanlah akhir dari perjalanan publikasi ilmiah. Banyak artikel yang akhirnya berhasil diterbitkan setelah mengalami beberapa kali revisi atau bahkan dikirim ke jurnal lain yang lebih sesuai.
Yang terpenting adalah terus belajar dari setiap masukan yang diberikan reviewer.
Jadikan Penolakan Sebagai Proses Belajar
Dalam dunia akademik, penolakan artikel jurnal merupakan bagian dari proses yang hampir dialami oleh setiap peneliti. Bahkan banyak peneliti berpengalaman pernah menerima revisi besar atau penolakan sebelum akhirnya artikelnya berhasil dipublikasikan.
Alih-alih menganggap penolakan sebagai kegagalan, jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi. Semakin sering Anda memperbaiki kualitas penelitian dan kemampuan menulis ilmiah, semakin besar pula peluang artikel diterima pada pengiriman berikutnya.
Teruslah mengasah kemampuan menulis, memperluas wawasan melalui berbagai pelatihan, seminar, maupun diskusi ilmiah. Dengan semangat belajar yang konsisten, kualitas karya ilmiah akan terus meningkat dan peluang untuk berkontribusi dalam dunia akademik pun semakin terbuka. Jangan ragu untuk mulai belajar hari ini, karena setiap langkah kecil yang dilakukan akan membawa Anda lebih dekat pada pencapaian yang lebih besar.
