KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN MAHASISWA S2 SAAT BIMBINGAN TESIS DAN CARA MENGHINDARINYA

Menempuh pendidikan S2 menjadi langkah besar bagi banyak orang yang ingin meningkatkan kompetensi maupun jenjang karier. Namun, ada satu tahap yang sering menjadi tantangan terbesar, yaitu proses penyusunan tesis dan Pelatihan Penulisan Tesis. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa tesis lebih melelahkan dibandingkan seluruh mata kuliah yang telah ditempuh.

Padahal, sering kali hambatan tersebut bukan karena topik penelitian yang sulit, melainkan karena kesalahan-kesalahan kecil yang terus dilakukan selama proses bimbingan dengan dosen pembimbing. Jika dibiarkan, kesalahan ini bisa membuat revisi semakin banyak, proses pengerjaan menjadi lebih lama, bahkan menunda kelulusan.

Supaya proses penyusunan tesis berjalan lebih lancar, berikut beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan mahasiswa S2 beserta cara mengatasinya.

https://ruangakademikjogja.com/kesalahan-umum-mahasiswa-s2-saat-menulis-tesis-dan-cara-menghindarinya/

Datang Bimbingan Tanpa Persiapan

Masih banyak mahasiswa yang datang ke jadwal bimbingan hanya membawa draft seadanya. Bahkan, ada yang berharap dosen akan memberikan arahan mulai dari nol tanpa adanya usaha dari mahasiswa.

Padahal, dosen pembimbing akan lebih mudah membantu jika mahasiswa sudah memiliki perkembangan yang jelas. Minimal, ada bagian yang sudah direvisi, daftar pertanyaan yang ingin didiskusikan, atau hasil analisis terbaru.

Sebelum bimbingan, luangkan waktu untuk membaca kembali isi tesis, mengecek bagian yang masih membingungkan, dan mencatat poin-poin yang ingin ditanyakan. Dengan begitu, waktu bimbingan menjadi jauh lebih efektif.

Terlalu Lama Menunda Revisi

Kesalahan berikutnya adalah menunda revisi terlalu lama. Setelah mendapatkan masukan dari dosen, beberapa mahasiswa memilih menunggu mood datang atau menunda karena merasa revisinya terlalu banyak.

Akibatnya, ketika jadwal bimbingan berikutnya tiba, revisi belum selesai sehingga proses penyusunan tesis menjadi semakin lambat.

Sebaiknya, kerjakan revisi sedikit demi sedikit setelah selesai bimbingan. Tidak harus langsung selesai dalam satu hari, tetapi jangan sampai menunggu berminggu-minggu tanpa ada progres.

Tidak Mencatat Masukan dari Dosen

Saat bimbingan berlangsung, dosen biasanya memberikan banyak arahan dalam waktu singkat. Jika tidak dicatat, besar kemungkinan ada beberapa poin yang terlupakan.

Hal ini sering menyebabkan mahasiswa melakukan kesalahan yang sama pada pertemuan berikutnya.

Biasakan membawa notebook, laptop, atau menggunakan aplikasi catatan di ponsel agar setiap masukan dapat didokumentasikan dengan baik. Catatan tersebut akan sangat membantu ketika mulai mengerjakan revisi.

Menganggap Kritik Sebagai Penolakan

Mendapat banyak coretan atau komentar dari dosen memang tidak selalu menyenangkan. Namun, kritik bukan berarti dosen tidak menyukai penelitian yang sedang dikerjakan.

Sebaliknya, kritik adalah bagian dari proses akademik untuk menghasilkan penelitian yang lebih berkualitas.

Semakin terbuka menerima masukan, semakin cepat pula kualitas tesis meningkat. Oleh karena itu, jangan langsung merasa minder ketika menerima revisi yang cukup banyak.

Jarang Berkomunikasi dengan Dosen Pembimbing

Ada mahasiswa yang baru menghubungi dosen setelah satu atau dua bulan tidak memberikan kabar perkembangan tesis.

Komunikasi yang terlalu jarang membuat dosen sulit mengetahui progres penelitian. Bahkan, ada kemungkinan dosen lupa dengan pembahasan sebelumnya sehingga proses bimbingan harus mengulang dari awal.

Usahakan tetap menjaga komunikasi secara profesional. Berikan update perkembangan secara berkala, terutama jika memang ada kendala yang membuat pengerjaan tesis sedikit terhambat.

Tidak Memahami Metodologi Penelitian

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah hanya mengikuti contoh penelitian terdahulu tanpa benar-benar memahami alasan penggunaan metode tersebut.

Padahal, dosen pembimbing biasanya akan menanyakan mengapa memilih metode tertentu, bagaimana proses pengambilan data, hingga alasan teknik analisis yang digunakan.

Jika hanya menyalin tanpa memahami konsepnya, mahasiswa akan kesulitan menjelaskan penelitiannya ketika seminar proposal maupun sidang tesis.

Karena itu, luangkan waktu untuk mempelajari metodologi penelitian secara lebih mendalam sebelum mulai mengolah data.

Terlalu Perfeksionis Sejak Awal

Sebagian mahasiswa ingin setiap bab langsung sempurna sebelum dikirim ke dosen. Akibatnya, proses menulis justru menjadi sangat lambat karena terlalu banyak mengedit bagian yang sebenarnya masih bisa diperbaiki nanti.

Perlu dipahami bahwa tesis memang akan melalui beberapa tahap revisi. Tidak ada draft pertama yang langsung sempurna.

Lebih baik menyelesaikan draft terlebih dahulu, kemudian memperbaikinya berdasarkan arahan dosen. Cara ini jauh lebih efektif dibanding terus menunggu tulisan terasa sempurna.

Kurang Mengatur Waktu

Mahasiswa S2 umumnya juga memiliki kesibukan lain, seperti bekerja atau mengurus keluarga. Tanpa manajemen waktu yang baik, tesis sering kali menjadi pekerjaan yang selalu ditunda.

Membuat target mingguan dapat membantu menjaga konsistensi. Misalnya, satu minggu fokus menyelesaikan tinjauan pustaka, minggu berikutnya mulai mengolah data, dan seterusnya.

Target kecil yang dilakukan secara rutin biasanya lebih mudah dicapai dibanding menetapkan target besar yang justru terasa berat.

Jangan Takut Bertanya

Masih banyak mahasiswa yang merasa sungkan bertanya karena khawatir dianggap belum memahami materi. Padahal, bertanya justru menunjukkan bahwa mahasiswa benar-benar ingin belajar.

Jika ada arahan dosen yang kurang jelas, lebih baik meminta penjelasan saat itu juga daripada salah memahami dan harus mengulang revisi di kemudian hari.

Komunikasi yang terbuka akan membuat proses bimbingan menjadi lebih nyaman bagi kedua belah pihak.

Penutup

Proses penyusunan tesis memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Namun, sebagian besar hambatan sebenarnya bisa diminimalkan jika mahasiswa mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang sering terjadi selama bimbingan.

Persiapan yang matang, komunikasi yang baik dengan dosen, disiplin mengerjakan revisi, serta kemauan untuk terus belajar akan membuat perjalanan menyelesaikan tesis terasa lebih ringan. Jadikan setiap masukan sebagai kesempatan untuk berkembang, bukan sebagai hambatan.

Teruslah meningkatkan kemampuan akademik, memperluas wawasan, dan jangan pernah berhenti belajar. Setiap proses yang dijalani hari ini akan menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan di dunia profesional maupun pendidikan di masa depan.