KENAPA ARTIKEL ILMIAH DITOLAK? INI PENYEBAB YANG PALING SERING TERJADI
Menulis artikel ilmiah bukan hanya tentang menuangkan hasil penelitian ke dalam sebuah dokumen. Agar bisa diterima oleh jurnal atau media ilmiah, artikel juga harus memenuhi berbagai standar, mulai dari kualitas isi, metode penelitian, hingga tata cara penulisan. Itulah mengapa Penyebab Artikel Ilmiah Ditolak tidak sedikit penulis yang harus menghadapi kenyataan bahwa artikel ilmiah mereka ditolak.
Bagi penulis pemula, penolakan sering kali dianggap sebagai kegagalan. Padahal, dalam dunia akademik, hal tersebut merupakan proses yang cukup umum. Bahkan banyak peneliti berpengalaman pernah mengalami revisi berkali-kali atau penolakan sebelum akhirnya artikelnya berhasil dipublikasikan.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat artikel ilmiah ditolak? Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi beserta cara menghindarinya.

Mengapa Artikel Ilmiah Bisa Ditolak?
Setiap jurnal memiliki standar dan kebijakan yang berbeda. Tim editor akan melakukan proses seleksi untuk memastikan bahwa artikel yang diterbitkan benar-benar layak dipublikasikan.
Apabila artikel tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan, kemungkinan besar naskah akan dikembalikan untuk revisi atau bahkan langsung ditolak.
Karena itu, memahami penyebab penolakan menjadi langkah penting agar kualitas artikel semakin baik sebelum dikirimkan.
1. Topik Kurang Relevan dengan Fokus Jurnal
Salah satu alasan paling umum adalah topik yang dibahas tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal tujuan.
Misalnya, jurnal yang berfokus pada bidang pendidikan tentu akan lebih mengutamakan artikel yang membahas isu-isu pendidikan. Jika penulis mengirimkan artikel tentang ekonomi atau kesehatan, peluang diterima menjadi lebih kecil meskipun isi artikelnya baik.
Sebelum mengirimkan artikel, pastikan membaca terlebih dahulu fokus dan cakupan jurnal yang dituju.
2. Metode Penelitian Kurang Jelas
Metode penelitian merupakan bagian penting dalam artikel ilmiah. Pembaca harus memahami bagaimana penelitian dilakukan sehingga hasilnya dapat dipercaya.
Artikel yang menjelaskan metode secara kurang rinci sering kali dianggap memiliki kualitas ilmiah yang lemah. Akibatnya, editor atau reviewer dapat memberikan penilaian negatif terhadap naskah tersebut.
Pastikan metode penelitian dijelaskan secara sistematis, mulai dari objek penelitian, teknik pengumpulan data, hingga metode analisis yang digunakan.
3. Data Tidak Mendukung Kesimpulan
Kesimpulan yang baik harus berasal dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
Sayangnya, masih ada penulis yang menarik kesimpulan terlalu luas atau bahkan tidak sesuai dengan data yang disajikan. Hal ini menjadi salah satu alasan artikel sulit diterima karena dianggap kurang memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Sebaiknya, setiap kesimpulan didukung oleh hasil analisis yang telah dijelaskan sebelumnya.
4. Referensi Kurang Lengkap atau Sudah Tidak Relevan
Referensi memiliki peran penting dalam memperkuat argumen penulis.
Penggunaan sumber yang terlalu lama atau jumlah referensi yang sangat sedikit dapat menurunkan kualitas artikel. Selain itu, penggunaan referensi yang tidak kredibel juga dapat memengaruhi penilaian reviewer.
Usahakan menggunakan jurnal ilmiah terbaru dan sumber terpercaya agar artikel memiliki landasan teori yang kuat.
5. Tata Bahasa dan Format Penulisan Tidak Sesuai
Banyak artikel ditolak bukan karena isi penelitiannya buruk, tetapi karena format penulisannya tidak mengikuti pedoman jurnal.
Kesalahan seperti ukuran font, format sitasi, penomoran tabel, hingga daftar pustaka sering menjadi perhatian editor.
Oleh sebab itu, selalu baca panduan penulisan yang diberikan oleh jurnal sebelum mengirimkan artikel.
6. Tingkat Kemiripan (Plagiarisme) Terlalu Tinggi
Setiap jurnal umumnya melakukan pengecekan plagiarisme menggunakan perangkat lunak khusus.
Apabila tingkat kemiripan terlalu tinggi, artikel berpotensi langsung ditolak karena dianggap tidak memenuhi etika akademik.
Pastikan seluruh kutipan telah ditulis dengan benar dan lakukan parafrase pada bagian yang diperlukan tanpa mengubah makna aslinya.
7. Tidak Memiliki Kebaruan Penelitian
Editor jurnal biasanya mencari artikel yang menawarkan sesuatu yang baru, baik berupa metode, objek penelitian, hasil, maupun sudut pandang.
Jika penelitian hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa memberikan nilai tambah, kemungkinan diterima akan lebih kecil.
Karena itu, sebelum memulai penelitian, lakukan studi literatur untuk mengetahui celah penelitian yang masih bisa dikembangkan.
Cara Meningkatkan Peluang Artikel Diterima
Agar artikel memiliki peluang lebih besar untuk dipublikasikan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
- Membaca pedoman penulisan jurnal secara menyeluruh.
- Menggunakan referensi ilmiah yang terbaru dan terpercaya.
- Menyusun metode penelitian secara jelas.
- Memastikan data mendukung hasil dan kesimpulan.
- Melakukan pengecekan tata bahasa dan format sebelum mengirimkan artikel.
- Memeriksa tingkat kemiripan menggunakan aplikasi plagiarism checker.
- Meminta masukan dari dosen, rekan peneliti, atau reviewer internal sebelum melakukan submit.
Dengan melakukan evaluasi sebelum pengiriman, peluang artikel diterima akan menjadi lebih besar.
Kesimpulan
Penolakan artikel ilmiah merupakan hal yang wajar dalam dunia akademik. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari topik yang kurang sesuai, metode penelitian yang belum jelas, referensi yang kurang kuat, hingga kesalahan format penulisan.
Alih-alih berkecil hati, jadikan setiap masukan dari editor maupun reviewer sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas penelitian dan kemampuan menulis ilmiah. Semakin sering berlatih, semakin baik pula kemampuan dalam menyusun artikel yang sesuai dengan standar publikasi.
Teruslah belajar, membaca referensi terbaru, mengikuti pelatihan, dan mengasah kemampuan menulis ilmiah. Setiap proses yang dijalani akan menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kompetensi akademik maupun profesional di masa depan.
